Minggu, 24 Juni 2012

PROFIL SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keadaan kebahasaan di Indonesia kini, pertama, ditandai dengan adanya sebuah bahasa nasional yang sekaligus juga menjadi bahasa Negara, yaitu bahasa Indonesia; kedua, adanya ratusan bahasa daerah; ketiga, adanya sejumlah bahasa asing, yang digunakan atau diajarkan di dalam pendidikan formal. Ketiga bahasa ini secara sendiri-sendiri juga mempunyai masalah, dan secara bersama-sama juga menimbulkan masalah yang cukup kompleks, dan yang perlu diselesaikan.  Masalah yang dihadapi adalah berkenaan dengan status sosial dan politik  ketiga bahasa itu, masalah penggunaannya, masalah saling pengaruh diantara ketiganya, masalah pembinaan, pengembangan, dan pengajaran.
B.     Tujuan dan Kegunaan Makalah
1.      Tujuan Makalah
a.       Agar Mahasiswa mangetahui peran sosiolingualistik di Indonesia.
b.      Agar mahasiswa mempu mencari solusi terhadap permasalahan sosiolingualistik di Indonesia.
2.      Kegunaan Makalah
a.       Sebagai tugas terstruktur pada mata kuliah Sosiolingualistik.
b.      Hasil makalah ini diharapkan da[pat dijadikan media untuk menambah dan memperluas khasanah keilmuan, khususnya bagi pengembangan keguruan ilmu pendidikan.
  
BAB II
PROFIL SOSIOLINGUALISTIK
DI INDONESIA

A.    Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing
1.      Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan wilayah yang luas dan penduduk  yang terdiri dari berbagai suku dan tiap suku mempunyai bahasa daerah masing masing, hal ini dilatar belakangi budaya yang tidak sama.
Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV Pasal 36, yang menyatakan bahawa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia menjalankan tugas sebagai berikut:
a)      Lambang kebanggaan nasional
b)      Lambang identitas nasional
c)      Sarana penyatuan bangsa
d)     Sarana perhubungan anatarbudaya dan daerah
Sebagai bahasa kenegaraan bahasa Indonesia bertugas sebagai:
a)      Bahasa resmi kenegaraan
b)      Bahasa pengantar resmi dilembaga pendidikan
c)      Sarana perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan
d)     Sarana pengembangan kebudayaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dari fungsi-fungsi yang diembankannya sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan utama di Negara Republik Indonesia.
2.      Bahasa Daerah
Berdasarkan peta bahasa yang dibuat oleh Lembaga Bahasa Nasional ( kini Pusat Bahasa) tahun 1972 ada sekitar 480 buah bahasa daerah dengan jumlah penutur setiap bahasa berkisar antara 100 orang ( ada di irian jaya) sampai yang lebih dari 50 juta (penutur bahasa jawa).
Kedudukan dan kelestarian bahasa derah dijamin mendapat jaminan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 36 Bab XV UUD 1945. Bahasa daerah mempunyai tugas sebagai berikut :
a.       Lambang kebangaan daerah
b.      Lambang identitas daerah
c.       Sarana penghubung di dalam keluarga dan masyarakat daerah, dan
d.      Sarana pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah.
Hubungannya dengan tugas bahasa Indonesia adalah :
a.       Penunjang bahasa nasional
b.      Sumber bahan pengembangan bahasa nasional, dan
c.       Bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan disekolah dasar di daerah tertentu untuk mempelancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi bahasa-bahasa secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
3.      Bahasa Asing
Bahasa asing adalah bahasa-bahasa lain yang bukan melik penduduk asli seperti bahasa Cina, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Belanda, Bahasa Jerman, Bahasa Perancis berkedudukan sebagai bahasa asing. Didalam kedudukannya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa tersebut bertugas sebagai :
a.       Saran penghubung antar bangsa
b.      Sarana pembantu pengembangan bahasa Indonesia, dan
c.       Alat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern bagi kepentingan pembangunan nasional. Jadi bahasa-bahasa asing merupakan bahasa ketiga di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.
Istilah bahasa pertama, bahas kedua, dan bahasa ketiga biasanya digunakan sebagai istilah dalam urutan pemerolehan penguasaan bahasa. Bahasa yang mula-mula dipelajari seorang anak, adalah bahasa lingkungan keluargaanya, disebut bahasa pertama atau bahasa ibu. Sebagian besar anak Indonesia bahasa pertamanya adalah bahasa daerahnya masing-masing. Setelah sekolah mempelajari bahasa Indonesia, maka bahasa Indonesia disebut senagai bahasa kedua. Bila disekolah diajarkan bahasa Inggris, maka bahasa Inggris disebut bahasa ketiga.
B.     Bahasa Indonesia Berasal dari Pijian
Dalam studi sosiolinguistik ada satu hal yang menarik mengenai asal usul bahasa Indonesia, yaitu adanya pendapat dari pakar asing yang memiliki reputasi nama internasional bahwa bahasa Indonesia standar berasal dari sebuah pijin yang disebut.Baz aar Malay atau Low Malay. pendapat ini mula-mula dilontarkan oleh seorang sejarawan kenamaan G.M. Kahin dalan bukunya yang berjudul Nationalism and Revoluriott in Indonesia (cornell university press 1952). Kemudian dikemukakan pula oleh seorang sosiolinguis terkenal yang mempunyai keahlian di bidang bahasa pijin dan kreol, yaitu R.A Hall dalam makalahnya berjudul, pidgins and creoles as standard Language yang dimuat dalam Pride dan Holmes, editor, (1976:142-153, cetakan pertama 1972). Pendapat Hall ini banyak diikuti oleh pakar lain seperti Hopper (1972), dan di lndonesia oleh poedjosoedarmo (1978) dan Alwasilah (1985).
Akhirnya, mengenai pendapat Hall di atas bisa dikatakan kalau benar bahasa lndonesia standar berasal dari pijin Melayu (bahasa Melayu Pasar), maka tentunya dalam bahasa Indonesia sekarang yang diterima adalah bentuk kalimat seperti, "Dia mau kasih itu kain sama dia punya bini"; dan bukannya bentuk "Dia akan memberikan kain itu kepada isterinya".
C.    Pembakuan Bahasa Indonesia
Apa yang dimaksud dengan bahasa baku dan bagaimana proses pembentukannya telah dibicarakan pada Bab l3 yang lalu. Dalam subbab ini mmasih ingin dikemukakan beberapa masalah yang berkenaan dengan pembakuan bahasa lndonesia.
Dalam Bab l3 yang lalu telah disebutkan bahwa pembakuan bahasa menyangkut semua aspek atau tataran bahasa, yaitu fonologi, ejaan, morfologi, sintaksis, kosakata, dan peristilahan. Dalam bahasa Indonesia ada pembakuan yang sudah diselesaikan, tetapi ada pula yang belum.
Pembakuan dalam bidang lafal belum pernah dilakukan, padahal dari segi kebahasaan masalah lafal ini sangat penting; dan dari segi sosial politik cukup rawan. Seringkali lafal seseorang dari daerah tertentu menjadi bahan olok-olokan dari penutur bahasa Indonesia dari daerah lainnya. Hingga kini dalam pertuturan bahasa lndonesia kita dapat mendengar aneka warna ucapan dan kita dapat mengetahui seseorang itu berasal dari berdasarkan lafalnya. Mengenai lafal yang berbeda-beda ini ada ciri seorang anak Indonesia kelahiran Jakarta yang mengikuti program pertukaran pelajar ke jepang. Selama di Jepang dia ditemani oleh seorang (mahasiswi Jepang) yang pemah mengikuti prograrn yang sama dan tinggal di Jember, Jawa Timur, Indonesia. Si mentor ini merasa heran karena bahasa Indonesia (tepatnya lafalnya) yang dikuasai dan dipelajari slama di Indonesia tidak sama dengan  yang digunakan pelajar dari Jakarta yang  kini dibimbingnya. Cerita si anak Jakarta itu, bahasa Indonesia si mentornya persis seperti bahasa Indonesianya pelawak Kadir dan Bu Bariyah.
Pembakuan dalam bidang gramatika, mencakup morfologi dan sintaksis, telah dilakukan, yakni dengan terbitnya buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia tahun 1988, dan yang pada tahun 1993 terah pula diterbitkan revisinya. Sayangnya masih banyak sekali pakar dan guru bahasa Indonesia yang masih merasa kurang "pas" dengan buku tersebut. Banyak masalah yang muncul dari buku tersebut untuk bisa dipersoalkan. Sebetulnya yang dibutuhkan masyarakat bukanlah sebuah buku tata bahasa baku yang teoretis, melainkan sebuah buku tata bahasa baku yang praktis yang mudah diikuti untuk dijadikan pedoman dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. oleh karena itu, barangkali, berdasarkan buku tata bahasa baku yang ada itu, dapat dibuat sebuah buku tata bahasa yang lain, yang dengan mudah dapat menjadi pedoman bagi masyarakat. Memang kita sadarijuga bahwa kaidah-kardah tata bahasa itu tidak selamanya tetap; namun, adanya ketetapan sangat diperlukan dalam pembinaan dan pembakuan bahasa.
Pembakuan dalam bidang kosakata dan istilah sudah dan sedang berjalan. Pengembangan, pemekaran, dan pembakuan kosakata memang ticlak bisa berhenti pada satu titik, sebab seperti kita lihat dari Bab 9, perubahan kosakata dalam setiap bahasa hampir dapat dikatakan bisa terjadi sepanjang waktu. Terbitnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (l988, edisi II 1993) merupakan satu tonggak yang sangat penting dalam upaya pembakuan dan pemekaran kosakata bahasa Indonesia.
D.    Pengajaran Bahasa Indonesia
Dalam pengajaran pendidikan formal, pendidikan bahasa Indonesia mempunyai dua bagian yaitu :
1.      Sebagai bahasa pengantar di dalam pendidikan, dan
2.      Sebagai mata pelajaran yang harus dipelajari.
E.     Sikap dan Kemampuan Berbahasa
Secara nasional kedudukan bahasa Indonesia adalah pada tingkat pertama bahasa daerah adalah pada tingkat kedua dan bahasa asing pada tingkat ketiga. Tetapi bagi sebagian besar orang Indonesia dilihat dari segi emosional, keakraban, dan perolehan, bahasa daerah menduduki tingkat pertama; bahasa Indonesia nrenduduki tempat kedua, dan bahasa asing ada pada tingkat ketiga. Lalu, sikap terhadap ketiga bahasa itu pun tidak ditentukan oleh urutan kedudukan ketiga bahasa itu secara nasional melainkan menurut segi emosional, keakrab dan perolehan. Jadi, bahasa daerah  mendapat perhatian pertama, bahasa Indonesia yang kedua, dan bahasa asing yang ketiga. Oleh karena itu, sebagai akibat dari sikap itu, bahasa darah (yang memang dikuasai  dan digunakan sejak kecil ) akan digunakan sebaik mungkin kalau perlu tanpa kesalahan.
Sikap terhadap bahasa Indonesia seperti kurangnya minat untuk mempelajarinya akan  memberi dampak yang kurang baik terhadap kemampuan berbahasa Indonesia di kalagan banyak orang lndonesia baik dari lapisan bawah, menengah,dan atas bahkan juga pada lapisan intetektual. Kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia pada anggota masyarakat kelas bawah dan menengah bisa dimengerti sebab mereka pada umumnya tidak pernah secara formal mendapat pendidikan bahasa lndonesia atau kalau pun dapat tentulah dalam porsi yang tidak cukup. Tetapi kurangnya kemampuan berbahasa lndonesia pada golongan atas dan kelompok intelektual adalah sangat tidak biasa sebab mereka rata-rata mendapat pendidikan yang cukup. Apalagi untuk kelompok intelektual. Karena itu, kalau dicari sebabnya mengapa mereka kurang mampu berbahasa Indonesia, tentu adalah pada alasan sikap yang meremehkan dan kurang menghargai serta tidak punya rasa bangga terhadap bahasa lndonesia.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian pada  Bab II tentu dapat kita simpulkan bahwa pada profil sosiolingualistik di Indonesia terdapat beberapa hal yang menitik beratkan permasalaha pahasa Bahasa. Dengan mengetahui peran sosiolingualitik di Indonesia khususnya pada, baik bahasa Indonesia, bahasa Daerah, maupun bahasa Asing. Dan ketiga bahasa ini tentu mempunyai peran dan kedudukan tersendiri.
Dengan mengetahui peran bahasa itu sendiri dan permasalahan yang timbul maka kita diharapkan mampu mencari solusi terhadap permasalahan yang ada seperti pendapat para ahli mengenai asal muasal bahasa Indonesia, pembakuan bahasa, dan kemampuan berbahasa. Karena ini merupakan permasalahan yang perlu kita kaji, kita telahi, dan cari jalan keluarnya agar permalahan tidak terjadi permasalahan tiada akhir.
B.     Saran
Kita sebagai penduduk Indonesia hendaknya kita harus dapat menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan kaedah nya baik dari segi waktu, tempatnya, dan lainnya. Karena bahasa sebagai sarana penghubung dalam berinteraksi dengan orang sekeliling kita.
Kapan kita menggunakan bahasa Daerah, Indonesia, maupun Asing. Jadi keefektifan berkomunikasi tergantung penguasaan bahasa oleh orang yang menggunakan bahasa tersebut.

Minggu, 06 Mei 2012

BERITA SEBAGAI LAPORAN TERCEPAT

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Setiap harinya ada puluhan sampai ratusan peristiwa yang terjadi disekitar kita, tetapi tidak semua peristiwa itu layak diberitakan. Suatu peristiwa bisa dibuat berita  bila memiliki satu atau lebih nilai berita. Significance, magnitude, timeliness, proximity, prominence/ human intrest.
Semua orang membutuhkan berita, pemberitahuan dari suatu berita sangat dinantikan oleh khalayak yang membutuhkan informasi terlebih lagi apabila berita   tersebut berita yang baru, terkini, atau hangat (up to date). Pemberitahuan itu sendiri adalah laporan lengkap  ataupun interpretative ( telah disajikan sebagaimana dianggap penting oleh redaksi pemberitaan) ataupun berupa pemberitaan  penyelidikan yang merupakan pengkajian fakta-fakta lengkap dengan latar belakang, trend/ kecenderungan, yang akan terjadi di masa mendatang.  
Pada mulanya, para ahli mendefinisikan berita dengan pandangan dari sudut surat kabar saja. Kini media elektronik yang juga menyiarkan berita harus diperhitungkan. Dan kenyataan menunjukkan bahwa penyiaran berita oleh stasiun radio dan televisi sangat berpengaruh terhadap jurnalsitik surat kabar, antara lain dalam kecepatan sampainya berita kepada khalayak. Kalau suatu peristiwa baru dapat disiarkan surat kabar keesokan harinya, radio dan televisi hanya dalam hitungan jam saja, bahkan suatu peristiwa nasional dapat disiarkan radion dan televisi pada saat kejadian itu sendiri sedang berlansgung. Akan tetapi, karena ketiga media masa itu (surat kabar, radio dan televisi) masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka pada akhirnya terjadilah upaya saling mengisi.
B.     Tujuan dan Kegunaan Makalah
1.      Tujuan Makalah
a.       Untuk mengetahui apa yang dimaksud berita sebagai laporan tercepat.
2.      Kegunaan Makalah
a.       Sebagai tugas terstruktur (kelompok) pada mata kuliah Berita.
b.      Hasil makalah ini diharapkan dapat menjadi media untuk menambah dan memperluas khasanah keilmuan, terkhususnya bagi pengembangan keguruan ilmu pendidikan.

 BAB II
BERITA SEBAGAI LAPORAN TERCEPAT

Charnley (Syamsul, 1999 : 2) memberikan definisi atau pengertian berita adalah laporan tercepat dari suatu peristiwa atau kejadian yang faktual, penting, dan menarik bagi sebagian besar pembaca, serta menyangkut kepentingan mereka.
Berita adalah laporan tentang kejadian. Yang memuat laporan tentang kejadian namanya wartawan. Gunung meletus adalah kejadian, demikian pula bencana kelaparan. Kejadian itu oleh pers harus dilaporkan secara apa yang disebut dalam jargon teknis “ Langsung dan Faktual” . laporan semacam itu disebut juga laporan satu dimensi; terjadi di mana, kapan, berapa, dan apa akibatnya. Kemudian orang tidak puaslagi  dengan laporan yang sekedar langsung dan Faktual. Data yang diperoleh dari laporan semacam itu berubah memenuhi kebutuhan minimal.
Ketika isi kehidupan masyarakat semakin kaya, padat, kompleks, dan rumit, maka semakin dipahami bahwa setiap peristiwa dan hubungannya dengan peristiwa lain. Setiap peristiwa yang jatuh dari langit pun, mempunyai latar belakang dan pengembangan, dan masyarakat memerlukan informasi yang lebih lengkap tentang kejadian-kejadian penting dalam hidupnya.
Setelah berkembang pesatnya televisi yang penyebarannya ke dunia lebih cepat dan lebih hidup dalam gambar ; suara dan gerak hidup, dilakukan oleh televise. Seperti pernah dilukiskan  secara hidup oleh seorang redaktur Harian Perancis, France Soir. Dulu sebelum ada televise, jika ada kejadian penting, orang lari keluar rumah membeli surat kabar ; kini setelah ada televise, orang masuk menyetel televisi.
Secara sosiologis, berita adalah semua hal ang terjadi di dunia. Dalam gambaran yang sederhana, berita adalah apa yang dituliskan surat kabar, apa yang disiarkan radio dan apa yang ditayangkan televisi. Berita menampilkan fakta, tetapi tidak setiap setiap orang bisa dijadikan berita. Berita merupakan sejumlah peristiwa yang terjadi di dunia, tetapi hanya sebagian kecil saja yang dilaporkan (Sumadiria, 2005:63).
Berita bisa digolongkan pemberitahuan, informasi, laporan, dan lainnya. Namun pada pembahasan kita pada makalah ini. “Berita Sebagai Laporan Tercepat”, itu maksudnya laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televise, atau media online internet. Berita (news) mengandung kata new berarti baru. Secara singkat sebuah berita adalah sesuatu yang baru yang diketengahkan bagi khalayak pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, news adalah apa yang surat kabar atau majalah cetak, apa yang para penyiar beberkan ataupun media online internet yang mengonline-kan beritanya, dalam berita juga terdapat jenis-jenis berita yaitu:
1.      Straight News : berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depan surat kabar berisi berita jenis ini, jenis berita Straight News dipilih lagi menjadi dua macam :
a.       Hard News: yakni berita yang memiliki nilai lebih dari segi
aktualitas dan kepentingan atau amat penting segera diketahui
pembaca.
Berisi informasi peristiwa khusus (special event) yang terjadi
secara tiba-tiba.
b.      Soft News, nilai beritanya di bawah  Hard News dan lebih
merupakan berita pendukung.
2.      Depth News : berita mendalam, dikembangkan dengan pendalaman hal-hal
yang ada di bawah suatu permukaan.
3.      Investigation News: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau
penyelidikan dari berbagai sumber.
4.      Interpretative News: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau
penelitian penulisnya/reporter.
5.      Opinion News: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat
cendikiawan, sarjana, ahli atau pejabat mengenai suatu hal, peristiwa atau
kondisi.
Di era globalisasi ini, pemberitahuan dari sebuah berita dapat dengan mudah kita dapatkan dan informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, demi memenuhi kebutuhan rasa keingintahuan mereka untuk mengatasi suatu masalah. Hampir 100 persen manusia menghabiskan waktunya untuk berkomunikasi, sejak bangun tidur sampai tertidur lagi. Dalam buku  The Process of Communication: An Introduction to Theory and Practice.  Berlo mengatakan bahwa:

“There is research evidence to indicate that the average American spends about 70 per cent of his active hours communicating verbally-listening, speaking, reading, and writing, in that order”(Bukti riset menunjukkan bahwa 70 persen orang Amerika menghabiskan waktu kerjanya untuk berkomunikasi, baik mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis). (1960:1).

Menurut Palapah dan Atang Syamsudin media yang digunakan dalam menyampaikan pesan atau informasi terdiri dari “tiga jenis”, diantaranya:

“Media  visual (media yang hanya dapat dilihat seperti surat kabar), media audio (media yang hanya dapat didengar seperti radio), dan  media  audio visual (media yang dapat dilihat dan didengar seperti televisi)” Semua jenis media yang telah disebutkan di atas sering dikenal dengan sebutan media massa (1983:121).

a.       Karakter berita radio
Pertama : Segera dan Cepat
Laporan peristiwa atao opini di radio harus sesegera mungkin dilakukan untuk mencapai kepuasan pendengar dan mengoftimalkan sifat kesesegeraannya sebagai kekuatan radio.
Kedua : Aktual dan Faktual
Ketiga : penting bagi masyarakat luas
Keempat : relevan dan berdampak luas
b.      Karakter berita televisi
BERITA adalah Informasi yang dibutuhkan publik dan publik belum tahu.
Media televisi adalah media audio visual yang sifat pesannya sekilas lihat, sekilas dengar dan tidak terdokumentasi seperti media cetak.
Karena pesannya bersifat audio visual maka berita televisi memiliki nilai lebih dan kuat dalam memberitakan realitas sosiologis (factual). Media televisi bisa membuat penonton seolah-olah hadir (dengan melihat dan mendengar) di lokasi yang diberitakan. Namun, televisi tidak cukup optimal untuk memberitakanrealitas psikologis (opini) kecuali kalau disajikan dalam format talkshow.
Ada pernyataan sederhana, bahwa berita itu sudah pasti sebuah informasi, namun sebuah informasi belum tentu sebuah berita apabila informasi tersebut tidak memiliki nilai berita atau nilai jurnalistik untuk disebarluaskan kepada khalayak.
c.       Karakteristik dari Jurnalistik online adalah :
*      Audience Control. Jurnalisme online memungkinkan audience untuk bisa lebih leluasa dalam memilih berita yang ingin didapatkannya.
*       Nonlienarity. Jurnalisme online memungkinkan setiap berita yang disampaikan dapat berdiri sendiri sehingga audience tidak harus membaca secara berurutan untuk memahami.
*      Storage and retrieval. Online jurnalisme memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience.
*      Unlimited Space. Jurnalisme online memungkinkan jumlah berita yang disampaikan / ditayangkan kepada audience dapat menjadi jauh lebih lengkap ketimbang media lainnya.
*      Immediacy. Jurnalisme online memungkinkan informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada audience.
*      Multimedia Capability. Jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audience.
*      Interactivity. Jurnalisme online memungkinkan adanya peningkatan partisipasi audience dalam setiap berita.
d.      Nilai berita
1.      Kebermaknaan /Significance
2.      Besaran/ magnitude
3.      Kebaruan/ timeliness
4.      Kedekatan/ proximity
5.      Keterkemukaan/sisimanusiawi/ prominence/ human intrest.
e.       Sifat Berita
Berita, baik untuk surat kabar, radio, maupun televisi memiliki tigasifat yang harus dipenuhi, Menurut Djuroto (2003:27) tiga sifat tersebut yaitu:
*      Mengarahkan, artinya berita yang kita buat harus mampu mengarahkanperhatian pembaca, pendengar atau pemirsa sehingga mengikuti alurpemikiran kita.
*       Menumbuhkan atau membangkitkan semangat, artinya berita harus dapatmemberi rangsangan, dorongan, dan semangat bagi pembacanya
*      Berita yang bersifat memberi penerangan, artinya berita harus mampumemberi penerangan kepada masyarakat. Memberi penerangan di sinimaksudnya adalah memberikan penjelasan atau contoh-contoh kejadianyang tidak baik agar tidak ditiru oleh masyarakat. 

BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Sebagai mana yang di paparkan pada Bab II Berita adalah laporan tercepat yang di siarkan oleh surat kabar, radio, televisi, dan media lainnya seperti internet mengenai opini, atau fakta, atau keduanya yang menarik perhatian dan di anggap penting sebagian khalayak pembaca, pendengar, dan pemirsa. Kecepatan dalam mencari, menemukan, mngumpulkan, dan mengolah berita menjadi karakter dasar wartawan dan editor. Lebih cepat suatu berita di siapkan lebih baik. Karna factor kecepatan itu pula mengapa berita harus memuat dalam pola piramida terbalik. Prinsip kecepatan dalam melaporkan berita mengharuskan para wartawan dan editor mampu bekerja dengan cepat, namun prinsip ini harus di imbangi dengan kelengkapan, ketelitian, kecermatan, ketepatan. Factual, benar, dan akurat.
 Konsep ini menitik beratkan pada segi 'baru terjadinya' (newsness) sebagai faktor terpenting dari sebuah berita. Akan tetapi dengan adanya radio dan televisi yang juga menyiarkan berita, faktor timelyness ini menjadi relatif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang, yang pada malam harinya mendengar suatu berita dari radio dan televisi, keesokan harinya menyempatkan diri untuk membaca berita yang sama dari surat kabar. Hal ini addalah berkat jurnalsitik surat kabar yang tetap dapat memikat khalayak.
A.    Saran
Kehadiran makalah ini mungkin sedikit mambantu anda dalam menyelesaikan permasalahan yang anda butuhkan yang berkaitan dengan berita sebagai laporan tercepat. Berikut beberapa saran yang kiranya dapat bermanfaat bagi semua pihak yaitu :
1)      Beita merupakan sebuah laporan yang berisi actual dan factual, bukan sekedar berita atau laporan biasa, ingat rumus berita “ Anjing menggigit budi bukan berita, tapi Budi menggigit anjing baru itu berita”.
2)      Kejadian yang member sentuhan perasaan atau emosi pada pembaca. Kejadiannya menyangkut orang biasa dalam peristiwa luar biasa, orang luar biasa dalam peristiwa biasa atau bahkan orang luar biasa dengan kejadian luar biasa.

Minggu, 08 April 2012

TAHAP PERSIAPAN PIDATO

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berbicara yang bisa meningkatkan kualitas sipembicara itu sendiri, serta mampu membuat pendengar terbuai dengan apa yang kita bicarakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun hal itu bisa dilakukan oleh pembicara dengan ilmu atau jurus-jurus jitu dari retorika. Dalam retorika dikatakan pembicara dituntut mampu berbicara yang menarik, mempunyai nilai informasi,bersifat menghibur, dan tentu mempunyai pengatuh atau berpengaruh bagi pendengar.
Retorika adalah seni berkomunikasi secara lisan oleh seseorang kepada sejumlah orang secara langsung bertatap muka. Pada makalah ini akan  membicarakan tahap apa saja mengenai persiapan berpidato. Sehingga pidato yang kita memiliki daya tarik, informative, rekreatif, dan persuasive.
B.     Tujuan dan Kegunaan Makalah
1.      Tujuan Makalah
a.       Untuk mengetahui persiapan apa saja yang dibutuhkan dalam pidato
b.      Untuk mengetahui jenis-jenis pidato
c.       Untuk mengetahui bagai mana memilih topik pidato yang baik serta tujuan pidato
d.      Untuk mengethui teknik pengembangan pokok bahasan dalam pidato.
2.      Kegunaan Makalah
a.       Di ajukan sebagai tugas tersetruktur dalam mata kuliah RETORIKA
b.      Hasil makalah ini diharapkan dapat menjadi media untuk menambah dan memperluas khasanah keilmuan, terkhususnya bagi pengembangan keguruan ilmu pendidikan.
  
BAB II
TAHAP PERSIAPAN PIDATO
A.    Pengertian pidato
Sebelum kita mengetahui jenis-jenis pidato, bagaimana menentukan topik yang baik dan benar dalam berpidato, tujan dari pidato, dan serta pengembangan bahasa. Sebaiknya kita tahu dulu apa itu pidato?
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik disampaikan kepada orang banyak.
James H. McBurne dan Ernest J. Warage mendefinisikan pidato sebagai “ Komunikasi gagasan dan perasaan dengan mengunakan lambing-lambang yang terlihat dan terdengar berasal dari pembicara itu”.
Dari definisi diatas dapat disimpukan, pidato adalah ungkapan yang dilakukan dengan sengaja didepan orang banyak yang berisikan pesan-pesan berupa pemberitahuan, mempengaruhi, dan hiburan yang teratur, sistematss serta bertujuan yang jelas.
B.     Jenis-Jenis Pidato
Jenis pidato terbagi empat, yaitu :
1.      Impromtu
2.      Manuskrip
3.      Memoriter
4.      Ekstempore
Pidato Impromtu adalah pidato yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa persiapan sebelumnya.
Bagi pembicara yang berpengalaman impromtu tidak masalah, malah memberi keuntungan tersendiri baginya. Tapi bagi yang belum terbiasa alaias tidak berpengalaman impromtu merupakan momok yang terbesar baginya, karena bingung mau berbuat apa. Pada hal disuruh pidato bukan goyang lutut dan nyengir-nyengir tak jelas. Berikut keuntungan dan kelemahan jenis pidato impromtu:
KEUNTUNGAN
KELEMAHAN
1.      Impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya.
2.      Gagasan dan pendapatnya dating secara sepontan, sehingga tanpak segar dan hidup.
3.      Impromptu memungkinkan anda terus berpikir.
1.      Impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah, karena dasar pengetahuan yang tidak memadai.
2.      Impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancer.
3.      Gagasan yang disampaikan bisa “acak-acakan” dan ngawur
4.      Karena tiadanya persiapan kemungkinan demam “panggung” besar sekali

Disarankan bagi yang belum berpengalaman, impromtu sebaiknya dihindari dari pada anda tampak “Bodoh” di hadapan orang lain.
Pidato Manuskrip adalah pidato dengan naskah. Biasanya jenis pidato ini juru pidato membacakan naskah pidatonya dari awal hingga akhir. Pidato manuskrip bukan jenis pidato yang baik. Namun jenis pidato ini perlu digunakan tujuannya untuk menghindari kesalahan. Biasanya jenis pidato ini di gunakan ketika anda diminta untuk melaporkan keadaan keuangan, beberapa pemasukan, dari mana saja sumbernya, dan beberapa pengeluarannya dituang dalam bentuk naskah kemudian dibaca. Jika tidak dituang kebentuk naskah dikhawatirkan terjadi kesalahan apa yang akan disampaikan dengan apa yang disampaikan.
Keuntungan dan kerugian dari pidato manuskrip:
KEUNTUNGAN
KERUGIAN
1.      Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gemblang.
2.      Pernyataan dapat dihemat, karena mankrip dapat disusun kembali
3.      Kefasihan bicara dapat dicapai karena kata-kata sudah disiapkan
4.      Hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari
5.      Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.

1.      Komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka.
2.      Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik karena ia lebih berkosentrasi pada teks pidato, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku.
3.      Umpanbalik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan.
4.      Pembuatannya lebih lama.
Pidato Memoriter adalah pidato yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian dihapalkan kata demi kata. Pada pidato jenis ini asalkan anda memiliki kemampuan menghapal yang kuat tidak masalah, bagi yang tidak bisa-bisa dirumah ada teks pdatonya sampai dipedium teksnya hilang.
Keuntungannya; jika hapal pidato anda akan lancer, tapi kerugiannya; anda akan berpidato secara datar dan menonton, sehingga tidak akan mampu menarik perhatian pendengar.
Pdato Ekstempore adalah pidato yang paling baik dan paling sering digunakan oleh juru pidato yang berpengalaman dan mahir. Dalam jenis pidato ini juru pidato hanya mempersiapkan out-line/ garis-garis besar dan pokok-pokok bahasan penunjang / supporting points saja. Out-line merupakan kompas bagi pembicara dalam mengatur gagasan yang ada dalam pikiran kita.
Keuntungan pidato ekstempore ialah komunikasi antara pembicara dan pendengar lebih baik, karena pembicara berbicara langsung kepada pendengar. Pesan yang disampaikan dapat fleksibel untuk diubah sesuai kebutuhan. Pidato jenis ini perlu latihan yang intensif bagi pelakunya.
Jenis-jenis pidato bila dilihat dari tujuan pokok pidato yang disampaikan bisa di identifikasi kedalam jenis.
1.      Jenis pidato informatif
2.      Jenis pidato persuasif
3.      Jenis pidato rekreatif
Pidato informatif yaitu pidato yang tujan utamanya untuk menyampaikan informasi agar orang menjadi tahu tentang sesuatu.
Pidato persuasif yaitu pidato yang tujuan utamanya membujuk atau mempengaruhi orang lain agar mau menerima ajakan kita secara sukarela.
Pidato rekreatif yaitu pidato yang tujuan utamanya adalah menyenangkan atau menghibur orang lain.
Ketiga jenis pidato ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melemgkapi satu sama lain.
C.    MEMILIH TOPIK DAN TUJUAN
Kita sering kebingunan dalam menentukan topic yang baik, seakan-akan dunia ini kekeringan bahan pembicaraan. Pada hal setiap orang mempunyai keahlian spesifik. Setiap orang punya ahli dibidangnya masing-masing.
Untuk memilih topik yang baik itu sebenarnya mudah asal kita tahu kriteria topik yang baik itu seperti apa.
a.       Kriteria topik yang baik
Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan anda.
Maksudnya; kita jangan memilih topik yang kita tidak paham apa yang akan kita sampaikan, tapi pilihlah topik yang sederhana yang kita paham dan pendengarpun paham.
Contoh :
Ketika kita diminta berpidato deadpan para nelayan. Maka kita cari topik yang kita paham atau kita kuasai tentang nelayan. Misalnya kita paham tentang memasang pukat supaya ikan tidak lepas/ keluar. Jangan pula kita bicara cara memperbaiki mesin pompon yang tiba-tiba mogok, tentu akan ling-lung sebab kita tidak punya pengetahuan tentang mesin.
b.      Topik harus menarik minat anda
Topik yang enak dibicarakan tentu topik yang kita senangi misalnya kita senang bercocok tanam, tentu topik yang kita suka masalah pertanian, bukan masalah bisnis atau lainnya.
c.       Topik harus menarik minat pendengar
Kita harus berbicara tentang sesuatu yang diminati pendengar. Biasanya hal-hal yang menarik perhatian  itu sangat tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin. Hal-hal yang baru dan indah yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidak pastian, hal yang berkaitan dengan kelurga, humor, rahasia, atau hal-hal yang memiliki manfaat nyata bagi hadirin.
d.      Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar
Betapa baikpun topik pembicaraan, jika tidak dapat dicerna oleh pendengar juga tidak baik. Karena pendengar mendengar apa yang disampaikan ingin tahu apa yang disampaikan. Bila mereka tidak paham untuk apa didengar.
e.       Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya
Topik yang baik tidak boleh terlalu luas.
Maksudnya kita tidak boleh mengangkat topik yang bersifat umum tapi pilihkah yang khususnya kita bisa ambil contoh;
Topik cara berternak ikan lele. Jangan cara berternak ikan saja, sebab itu akan membuat pendengar lebih suka dan lebih mudah diserap oleh pendengar.
f.       Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi
Kita harus mampu membaca waktu dan situasi, misalnya waktu kita sekitar 15 menit maka kita harus memilih topik yang kira-kira isinya sedikit, begitu juga peserta siapa, waktunya kapan jadi kita bisa menggunakan strategi-strategi yang sesuai. Bila pendengarnya remaja tentu berbicara masalah kenakalan remaja tentang bahanya narkoba. Jangan pula berbicara pada anak remaja masalah berhubungan suami istri yang baik kita bicarakan. Bisa kacau jadinya, kacau disini bukan soal pembicaraannya tapi kacau penerapannya nanti.
g.      Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain
Maksudnya kita boleh mencari dari berbagai sumber, bisa menurut buku, kamus, para ahli, atau pengalaman. Sehingga bisa mengaitkan harapan dengan bukti ril dilapangan, dengan begitu membuat pendengar lebih paham dan tertarik untuk mencoba.
Setelah pemilihan topik kita mesti merumuskan judul.

1.      Merumuskan Judul Pidato
Hal yang erat kaitannya dengan topik adalah judul. Biala topic adalah pokok pembahasan yangkan diulas, maka judul adalah nama yang diberikan untuk pokok pembahasan itu.
Judul yang baik harus memenuhi tiga syarat yaitu ;
a.       Relevan
b.      Propokatif
c.       Singkat
Relevan artinya ada hubungannya dengan pokok-pokok bahasan.
Propokatif artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiame pendengar.
Singkat berarti mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan mudah diingat.
2.      Menentukan Tujuan Pidato
Ada dua tujuan
a.       Tujuan umum
b.      Tujuan khusus
Tujuan umum pidato dirumuskan dalam tiga hal yaitu memberitahukan, mempengaruhi, dan menghibur.
Tujuan khusus ialah tujuan yang dapat dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus ini bersifat kongkret dan dapat diukur tingkat pencapaiannya atau dapat dibuktikan.
D.    TEKNIK MENGEMBANGKAN POKOK BAHASAN
Ada enam macam teknik pengembangan teknik pembahasan dalam berpidato:
1.      Penjelasan
Penjelasan adalah memberikan keterangan terhadap istilah atau kata-kata yang disampaikan. Misalnya, dengan cara memberikan pengertian atau definisi.

Contoh :
Istilah Iman kepada Allah, dapat dijelaskan dengan kalimat” Iman adalah rasa percaya dan yakin akan kebenaran adanya Allah di dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”
2.      Contoh
Contoh adalah upaya untuk mengkongkretkan gagasan, sehingga lebih mudah untuk dipahami.
3.      Analogi
Analogi adalah perbandingan antara dua hal  atau lebih untuk menunjukkan persamaan atau perbedaannya.
Misalnya ; membandingkan manusi dengan monyet secara biologis.
4.      Testimoni
Testimoni adalah pernyataan ahli yang kita kutip untuk menunjuang pembicaraan kita.
5.      Statistik
Statistik adalah angka-angak yang dipergunakan untuk menunjukkan perbandingan khusu dalam jenis tertentu.
Misalnya ; melukiskan betapa bokbroknya akhlak generasi muda Tanjungpinang, “saudara-saudra menurut hasil survai 95 persen remaja di Tanjungpinang tidak perawan lagi.
6.      Perulangan
Perulangan adalah menyebutkankembali gagasan yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Perulangan berfungsi untuk menegaskan dan meningkatkan kembali terhadapa apa yang kita sampaikan sebelumnya.


BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan Bab II maka dapat kita simpulkan dalam tahap persiapan pidato yang dapat kita perhatikan atau kita tinjau yaitu jenis-jenis pidato, jenis pidato ada empat, pertama impromtu, kedua manuskrip, ketiga memoriter, dan keempat ekstempore. Dengan mengetahui jenis-jenis ini tentu mempermudah kita dalam berpidato.
Berikutnya memilih topik dan tujuan pidato. Dalam pemilihan topik banyak sekali yang harus diperhatikan dan dipertimbangakan. Seperti pengetahuan, pendidikan, situasi, dan lainnya. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan agar pidato kita terarah, tepat sasran, dan bermanfaat tentuna.
Teknik dalam mengembangkan pokok pembahasan, seperti penjelasa, contoh, anologi, testimony, statestik, dan serta pengulangan. Hal ini bertujuan untuk mempemudah pendengar mencerna terhadap pesan yang kita sampaikan.
B.     SARAN
Tidak ada yang tidak bisa kita kuasai dan kita miliki bila kita mau belajar dan berlatih. Yang terpenting milikilah motivasi untuk maju dan berkembang. Kita pasti mampu mencapai keberhasilan yang diinginkan.
Kehadiran makalah ini mungkin sedikit mambantu anda dalam menyelesaikan permasalahan yang anda butuhkan yang berkaitan dengan berbicara (berpodato). Berikut beberapa saran yang kiranya dapat bermanfaat bagi semua pihak yaitu :
1)      Mulailah berlatih dengan disertai rasa kemauan yang kuat terhadap apa yang kita inginkan supaya kita bisa berpidato dengan baik. Baik kepada siapa, kapan saja, dan dimana saja.
2)      Jangan pernah merasa malu untuk bertanya, dan jangan pernah takut gagal ketika berlatih karena tidak ada keberhasilan tanpa adanya kegagalan. Milikilah rasa motivasi diri yang kuat karena dengan motivasi itu mempertandakan kita sudah mulai kearah yang kita inginkan.